.:Acehline Community:.
Silahkan mendaftar untuk Access penuh

.:Acehline Community:.

Computer - Internet - Hacking - Security
 
IndeksPortailPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Wujud Budaya Aceh Yang Ideal (Dilihat dari Aspek Pendekatan)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
zulfah
The Wizard
The Wizard


Jumlah posting : 759
Reputation : 2
Registration date : 01.06.07

PostSubyek: Wujud Budaya Aceh Yang Ideal (Dilihat dari Aspek Pendekatan)   Thu Jul 24, 2008 1:33 pm

Kondisi Budaya Aceh
Budaya sebagai buah pikiran, akal budi selalu muncul berproses, akibat
interaksi dengan wilayah lingkungan dan ruang waktu. Dalam kondisi
wilayah dan ruang waktu itu, dinamika proses pikiran menghasilkan
sesuatu; berwujud budaya komtemporer bahkan wujud budaya ideal untuk
menjangkau masa depan. Pokok persoalan adalah bagaimana “nilai hasil
budaya“ itu dapat dinikmati, bermanfaat dan menjadi acuan standar
harkat/martabat masyarakat dalam membangun peradaban (civilization).
Persoalan lain berupa “landasan pacu“ buah pikiran yang digunakan
menjadi “barometer” penilai arah wujud budaya, utnuk mengukur
keberhasilan implimentasi nilai-nilai budaya itu dalam “prosesi wujud
budaya ideal“ masa depan.
Bagi Aceh, memang sejarahnya demikian; pernah melambung “go
internasional“ dan kini “down“dengan berbagai cibiran dan pelecehan,
tidak hanya lintas nasional, bahkan juga “go inetrnasional (negative
culture), menjadi sedikit lumayan ketika di gunakan dalam istilah
“turun menjadi kearifan lokal“. Dari aspek sosiologis tak mungkin
menyalahkan sejarah, tetapi semua orang berhak untuk berbuat sejarah.
Kondisi itu dan kini tentu suatu tantangan!
Tidak cukup alasan untuk mengatakan, bahwa krisis Aceh berkepanjangan
dan bencana gempa dan gelombang tsunami, itu cobaan Allah SWT semata,
karena peringatan keras itu, tak lepas pula keterkaitannya dengan
prilaku budaya manusia yang melampau batas. Karena itu ambillah
hikmatnya dan kini peluang besar terbentang dihadapan kita, mau buat
apa?

Simbol Adat Aceh

Adat Aceh sebagai aspek budaya, tidak identik dalam
pemahaman “ budaya “ pada umumnya, karena segmen-segmen integritas
bangunan adat juga bersumber dari nilai-nilai agama (syariat) yang
menjiwai kreasi budayanya. “ Adat ngon agama lagei zat ngon sifeut “.
Roh Islami ini telah menjiwai dan menghidupkan budaya Aceh, sehingga
melahirkan nilai-nilai filosofis, yang akhirnya menjadi patron landasan
Budaya Ideal, dalam bentuk Narit Maja :
“Adat Bak Poe Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala,
Qanun Bak Putroe Phang, Reusan Bak Lakseumana“.
Pou Teumeureuhom; Simbol pemegang kekuasaan. Syiah Kuala; Simbol hukum
syari‘at/agama dari ulama. Qanun; Perundang-undangan yang benilai agama
dan adat dari badan legeslasi yang terus berkembang. Reusam; Tatanan
protokuler/seremonial adat istiadat dari ahli-ahli adat yang terus
berjalan. Pengembangan nilai-nilai tatanan ini, mengacu kepada sumber
asas, yaitu ” Agama (hukum) ngon Adat, lagei zat ngon Sifeut ”
Mengacu kepada asas narit maja ini maka budaya adat mengandung dua sumber nilai, yaitu :

  • Pertama: nilai adat istiadat, yaitu format seremonial, prilaku
    ritualitasi, keindahan, seni apresiasi dalam berbagai format upacara
    dan kreasi
  • Kedua: nilai normatif/ prilaku tatanan ( hukum adat ), yaitu
    format materi aturan dan bentuk sanksi-sanksi terhadap
    pelanggar-pelanggaranAnalisis membuktikan, karena istiqamah dan komit
    dengan nilai-nilai filosofis narit maja ini, maka implimentasi budaya
    Aceh, telah melambungkan harkat dan martabat Aceh, diperhitungkan oleh
    dunia internasional (fakta sejarah), dimana titik sentral
    pengembangannya adalah Meunasah dan Mesjid (simbol sumber nilai).
    Sebaliknya marjinalisasi acuan filosofi ini, sejarah telah mengantar
    Aceh dalam era kekinian.
Mengacu kepada budaya adat Aceh yang sarat dengan nilai-nilai
Islami, maka pada dasarnya, dalam pengembangan budaya adat berpegang
kepada beberapa asas, antara lain:

  • Setia kepada aqidah Islami (hablum minallah)
  • Bersifat universal (tidak ada gap antar agama, antar bangsa dan antar suku)
  • Persatuan dan kesatuan (hablum minan nas)
  • Rambateirata (kegotong royongan, tolong menolong)
  • Panut kepada imam (pemimpin)
  • Cerdas dengan ilmu membaca dan menulis (iqra‘ dan kalam/menulis )
Pertumbuhan budaya adat Aceh, andainya menjadi bagian kesetiaan
dalam konteks harkat dan martabat identitas keacehan, menghadapi
tantangan sebaran budaya global, maka wujud budaya idealis, akan mudah
adaptatis, akselirasasi dan berakumulasi secara kompetitif dan
terprogram.
Muatan budaya adat Aceh sebagaimana tersebut diatas, secara teori
memenuhi pandangan-pandangan yang dikemukakan antara lain oleh :


  1. E.B.Taylor dalam bukunya : Primitive Culture, Boston, 1871, dengan
    rumusan : Culture or Civilization is that complex whole whitch includes
    knowledge, belief, art, morals, law, customs and any other
    capabilities, acquired by man as a member of society.
    (E.M.K.Masinambau, Hukum dan Kemajemukan Budaya, Yayasan Obor
    Indonesia, Jakarta, 2000, hal.1)
  2. Maksudnya; Budaya adalah suatu peradaban yang mengandung berbagai
    nilai ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasan dan
    berbagai kemampuan rekayasa (keterampilan) seseorang sebagai anggota
    masyarakat3
  3. Abidin Hasyim, formula dasar kebudayaan Aceh, dengan mengemukakan,
    bahwa: Kebudayaan Aceh telah menemukan identitasnya yang bernafas
    keislaman. Sistem tata nilailah yang menjadi tolak ukur untuk menyaring
    pengaruh baru dari luar, mana yang bisa diterima dan mana yang harus
    ditolak. Sistem tata nilai Islam yang dianut masyarakat Aceh, dalam
    menghadapi pengaruh modern, bukanlah pertentangan antara keislaman
    tradisional dengan modern, sebab Islam tidak berwatak tradisional,
    karena padanya terkandung pula unsur-unsur modern (Seksi Seminar PKA-3,
    Bunga Rampai Temu Budaya Nasional, tulisan Abidin Hasyim, bertajuk:
    Kebudayaan Aceh Dalam Dilema Konflik dan Konsensus, hal.195)
  4. Soejito Sastrodiharjo, dalam topik tulisannya, Hukum Adat dan
    Realitas Penghidupan, dengan mengangkat dan setuju dengan pandangan
    Kluckhohn, yang mengatakan :.Nilai itu merupakan ”a conception of
    desirable”. Pada nilai ada beberapa tingkatan, yaitu nilai primer dan
    nilai sekunder. Nilai primer merupakan pegangan hidup bagi suatu
    masyarakat (abstrak), misalnya: kejujuran, keadilan, keluhuran budi dan
    lain-lain, sedangkan nilai skunder adalah nilai-nilai yang berhubungan
    dengan kegunaan, misalnya dasar-dasar menerima keluarga berencana atau
    untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Nilai skunder muncul
    sesudah penyaringan nilai primer. Kemajuan yang dicapai oleh Jepang,
    disebabkan karena orang Jepang mempertahankan nilai-nilai primernya,
    tetapi mengubah nilai-nilai skundernya (M.Syamsuddin, dkk, Hukum Adat
    dan Modernisasi Hukum, Fak.Hukum UII, Yogyakarta, 1998, hal 113 )
Mengaktualkan Adat dan Budaya Aceh

Untuk memelihara tumbuhnya adat istiadat Aceh, ada dua
kawasan yang perlu diprogramkan pengembangan apresiasi adat, dimana
para tokoh adat (leading) sektor dengan perangkatnya amat berperan di
dalamnya, yaitu kawasan Gampong dan kawasan Mukim:


  1. Gampong: Kesatuan masyarakat hukum yang merupakan organisasi
    pemerintahan terendah langsung di bawah mukim yang menempati wilayah
    tertentu, dipimpin oleh Keuchik dan yang berhak menyelenggarakan urusan
    rumah tangganya sendiri. Keuchik adalah Kepala Badan Eksekutif Gampong
    dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Gampong (Qanun, No.5 Tahun 2003)
  2. Mukim: kesatuan masyarakat hukum dalam Provinsi Nanggroe Aceh
    Darussalam yang terdiri atas gabungan beberapa Gampong yang mempunyai
    batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan
    langsung di bawah Camat yang dipimpin oleh Imeum Mukim. Imeum Mukim
    adalah Kepala Pemerintahan Mukim (Qanun No.4 Tahun 2003)
Dalam konteks budaya ideal, aktualisasi produk paket-paket budaya
adat, dapat memasuki pasar global, dengan memperhatikan beberapa unsur,
sebagai berikut:

  1. Berakhlak agamis: kuat
    aqidah dalam penegakan syiar dan syariat Islam. Han lon matei di luwa
    Islam, ka meunan peusan bak indatu. Ni bak matei kafee, leubeih geit
    kanjai. Nyang beik sagai cit tuka agama. Iman ta bina bak khusyu‘ di
    hatei
  2. Berjiwa adatis: Penampilan prilaku yang adatis, dengan forma-forma
    adat dalam upacara-upacara kekhidmatan, bernilai ekonomi, harkat dan
    martabat. Tasouk bajee bek lee ilat, leumah prut pusat leupah gura.
    Ureung inong misee boh mamplam, lam on ta pandang mata meucaca
  3. Bertata Etika: budaya adat yang transparan (bermasyarakat,
    beraturan, berencana, berorganisasi, bergerak dan rensponsif), dibawah
    manajemen Keuchik dan perangkatnya. Phon-phon adat cit jeut keudroe,
    watee meusahoe sinan meu tata. Maseing-maseing nanggroe na adat droe,
    ureung meubudoe (bakoe) nyang atoe cara. Beik keureuleing ngon kheim
    irot, beik meureubot peupap haba. Beik meututoe jampu carot, beik ngon
    meudhot sue meutaga
  4. Bertata Estetika. implimentas kreasi, apersiasi dalam format
    dengan nilai-nilai seni keindahan, bersih anggun, menarik (cantik),
    penuh nilai-nilai martabat yang santun, kebanggaan dan berwibawa.
    Beungoh seupot beu tamano, peugleih asoe pat-pat nyang reunta. Takoh
    gukee bak gaki ngon jaroe, peugleih gigoe jeut-jeut kutika. Rumoh
    tangga beuna ta pakoe, istana droe keurajeun raja. Beu gleih ngon
    rumoh, bagan beuk kutoe, di leun meu-asoe ngon bungong jeumpa
  5. Pengembangan nilai-nilai sejarah: Gedung memorial, monumen Daerah
    Modal, Monumen Perjuangan, Istimewa, Serambi Mekah, Syariat Islam,
    musium alat-alat teknologi pertanian tradisional, transportasi, musium
    perikanan, musium kereta api dan lainnya.
  6. Tempat-tempat Rekreasi: Membangun pantai-pantai wisata,l restoran,
    taman rekreasi, salon-salon, yang fasilitas penampilannya bernuansa
    adat dan Islami
  7. Membangun Panggung Festival: Menyediakan sarana festival seni yang
    bernafaskan Islam,menjadi media dakwah (kalender festival), dalail
    khairat, saman gayo, seudati, rapai, drama, tarian tradisional Aceh
    (klassik), tarian seni modern (Islami), pameran seni lukis, kaligrafi,
    makanan dan pakaian adat. Peranan pengusaha, secara komersial dan
    terprogram permanen. Membangun taman-taman hiburan untuk penyaluran
    minat kreasi, hiburan anak-anak yang tetap dan permanen. Taman rekreasi
    sungai Aceh
  8. Membangun maket-maket souvenir Aceh: Memperbanyak kegiatan bisinis
    bidang jasa melalui toko-toko souvenir, pakaian adat, kue-kue Aceh,
    barang-barang antik Aceh, barang perhiasan, keramik dan lain-lain:afro:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Wujud Budaya Aceh Yang Ideal (Dilihat dari Aspek Pendekatan)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» [ASK] setelan shock belakang yang ideal..
» Ukuran ban yang ideal
» indikator oli
» sharing yuk gan pengalaman agan agan pake ban gede
» ASK : Settingan Carbu, Mixture & Spuyer saat Ganti busi Iridium

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
.:Acehline Community:. :: Lain - lain :: All About Atjeh-
Navigasi: