.:Acehline Community:.
Silahkan mendaftar untuk Access penuh

.:Acehline Community:.

Computer - Internet - Hacking - Security
 
IndeksPortailPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Adat dan Hukum di Aceh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
zulfah
The Wizard
The Wizard


Jumlah posting : 759
Reputation : 2
Registration date : 01.06.07

PostSubyek: Adat dan Hukum di Aceh   Thu Jul 24, 2008 1:35 pm

Aceh adalah salah satu provinsi di
Indonesia yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat dalam
masyarakatnya. Hal ini terlihat dengan masih berfungsinya
institusi-institusi adat di tingkat gampông atau mukim. Meskipun
Undang-undang no 5 tahun 1975 berusaha menghilangkan fungsi mukim,
keberadaan Imum Mukim di Aceh masih tetap diakui dan berjalan. Hukum
adat di Aceh tetap masih memegang peranan dalam kehidupan masyarakat.

Dalam masyarakat Aceh yang sangat senang menyebut dirinya dengan
Ureueng Aceh terdapat institusi-institusi adat di tingkat gampông dan
mukim. Institusi ini juga merupakan lembaga pemerintahan. Jadi, setiap
kejadian dalam kehidupan bermasyarakat,
Ureueng Aceh selalu menyelesaikan masalah tersebut secara adat yang
berlaku dalam masyarakatnya. Pengelolaan sumber daya alam pun di atur
oleh lembaga adat yang sudah terbentuk.

Lembaga-lembaga adat dimaksud seperti
Panglima Uteun, Panglima Laot, Keujruen Blang, Haria Pekan, Petua
Sineubok. Semua lembaga ini berperan di posnya masing-masing sehingga
pengelolaan sumberdaya alam di gampông trepelihara.
Misalnya, Panglima Laot yang bertugas mengelola segala hal berkaitan
dengan laut dan hasilnya. Tentunya semua hal berkaitan dengan laut
diatur oleh lembaga tersebut. Begitu pun dengan lembaga lainnya.

Lembaga-lembaga adat itu sekarang terkesan hilang dalam masyarakat
Aceh, karena derasnya arus globalisasi dan westernisasi yang mencoba
merobah peradaban masyarakat Aceh. Padahal, jika lembaga-lembaga adat
tersebut dihidupkan pada suatu gampông, kampung tersebut akan tetap
kokoh seperti jayanya masa-masa kesultanan Aceh.

Salah satu contoh kokohnya masyarakat dengan peranan lembaga adat
seperti terlihat di Gampông Barô. Kampung yang dulunya berada di
pinggir pantai, namun tsunami menelan kampung mereka. Berkat
kepercayaan masyarakat kepada pemangku-pemangku adat di kampungnya,
masyarakat Gampông Barô sekarang sudah memiliki perkampungan yang
baru, yaitu di kaki bukit desa Durung, Aceh Besar.

Tak pernah terjadi kericuhan dalam masyarakatnya, sebab segala
macam kejadian, sampai pada pembagian bantuan pun masyarakat percaya
penuh kepada lembaga adat yang sudah terbentuk. Nilai musyawarah dalam
masyarakat adat memegang peranan tertinggi dalam pengambilan keputusan.

Kasus lain pernah terjadi di tahun 1979. Ketika itu desa Lam
Pu’uk selisih paham dengan desa Lam Lhom. Kasus itu terhitung rumit
karena membawa nama desa, namun masalah dapat diselesaikan secara adat
oleh Imum Mukim. Ini merupakan bukti kokohnya masyarakat yang
menjunjung tinggi adat istiadat yang berlaku. Mereka tidak memerlukan
polisi dalam menyelesaikan masalah sehingga segala macam bentuk masalah
dapat diselesaikan dengan damai tanpa dibesar-besarkan oleh pihak luar.

Jika kita lihat hukum yang dipakai oleh aparatur negara (polisi),
selalu berujung pada penjara dan denda. Penyalahgunaan hukum oleh
aparatur penegak hukum itu pun sering kita dengar. Misalkan saja ketika
seseorang silap tak memakai helm di jalan raya. Orang itu langsung
dijatuhi denda sampai Rp 50 ribu. Hal ini pernah menimpa beberapa
pengendara sepeda motor yang melintas di jalan depan Perpustakaan
Daerah NAD. Ketika yang melakukan kesalahan adalah penegak hukum atau
kerabatnya,
orang tersebut bisa bebas begitu saja. Artinya hukum yang dipakai tidak berlaku pada penegak hukum.

Dalam hukum adat semua jenis pelanggaran memiliki jenjang penyelesaian
yang selalu dipakai dan ditaati masyarakat. Hukum dalam adat Aceh tidak
langsung diberikan begitu saja meskipun dalam hukum adat juga mengenal
istilah denda. Dalam hukum adat jenis penyelesaian masalah dan sanksi
dapat dilakukan terlebih dahulu dengan menasihati. Tahap kedua teguran,
lalu pernyataan maaf oleh yang bersalah di hadapan
orang banyak (biasanya di meunasah/ mesjid), kemudian baru dijatuhkan
denda. Artinya, tidak langsung pada denda sekian rupiah. Jenjang
penyelesaian ini berlaku pada siapa pun, juga perangkat adat sekalipun.

Menilik hukum yang diselenggarkan oleh aparatur hukum negara ini,
apakah sudah sesuai dengan syariat Islam jika dengan segampangnya
meminta uang denda kepada
orang yang silap tidak mengenakan helm tanpa menasihati dan
memperingati terlebih dahulu? Oleh karena Aceh ini sudah diterapkan
syariat Islam, hukum di Aceh hendaknya jangan bertentangan dengan hukum
Islam. Islam tidak pernah memberatkan atau mempersulit penganutnya.
Hukum adat di Aceh selalu berpedoman kepada alquran dan assunnah. Hal
ini juga sesuai dengan qanun NAD nomor 7 tahun 2000 bab II pasal 2.

Lahirnya UU no.11 tahun 2006 memperlihatkan pemerintah
Indonesia telah mulai berpihak kepada rakyat Aceh. Di
sana mulai diakui keberadaan mukim dan gampông serta lembaga adat lainnya.

Dijelaskan dalam bab XIII pasal 98, bahwa lembaga adat berfungsi dan
berperan sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pemerintahan Aceh di bidang keamanan, ketenteraman, kerukunan, dan
ketertiban masyarakat.

Lembaga-lembaga adat dimaksud ada yang di tingkat gampông dan ada yang
di tingkat mukim. Jika lembaga adat ini diberikan wewenang sesuai
undang-undang dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat,
niscaya sumber daya alam di gampông tersebut lestari dan terjaga. Maka
masyarakat Aceh akan kembali jaya seperti zaman kesultanan dahulu,
karena hukum adat selalu pro rakyat. Semoga!lol!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Adat dan Hukum di Aceh
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Konsultasi - Diskusi Masalah Hukum
» Global Warming itu pembodohan massal!
» Minta saranya dong teman2
» Tanya Ini Motor siapa? (Naksir berat sama stickernya)
» (WTS) (READY STOCK) Kaos Kawasaki KLX 150

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
.:Acehline Community:. :: Lain - lain :: All About Atjeh-
Navigasi: