.:Acehline Community:.
Silahkan mendaftar untuk Access penuh

.:Acehline Community:.

Computer - Internet - Hacking - Security
 
IndeksPortailPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Teungku Muhammad Daud Beureueh Bapak Darul Islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
zulfah
The Wizard
The Wizard


Jumlah posting : 759
Reputation : 2
Registration date : 01.06.07

PostSubyek: Teungku Muhammad Daud Beureueh Bapak Darul Islam   Sat Aug 09, 2008 7:53 pm

Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah salah
satu tokoh ulama besar Aceh. Bersama ulama lain pada
zamannya, beliau berjuang mengibarkan dan menegakkan
panji-panji Islam di bumi Aceh. Sebagaimana yang pernah
dituturkannya kepada Boyd R. Compton dalam sebuah wawancara,
"Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya sebuah impian. Kami
mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, pada masa
Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu, pemerintahan
memiliki dua cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan
dan dijalankan menurut ajaran agama Islam. Pemerintahan
semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan zaman moderen.
Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan
semacam itu". (Boyd R. Compton, Surat-Surat Rahasia Boyd R.
Compton, Jakarta: LP3ES, 1995)

Siapakah Dia?



Teungku M. Daud Beureueh dilahirkan pada 15 September
1899 di sebuah kampung bernama "Beureueh", daerah Keumangan,
Kabupaten Aceh Pidie. Kampung Beureueh adalah sebuah kampung
heroik Islam, sama seperti kampung Tiro. Ayahnya seorang
ulama yang berpengaruh di kampungnya dan mendapat gelar dari
masyarakat setempat dengan sebutan "Imeuem (imam) Beureueh".
Teungku Daud Beureueh tumbuh dan besar di lingkungan
religius yang sangat ketat. Ia tumbuh dalam suatu formative
age yang sarat dengan nilai-nilai Islam di mana hampir saban
magrib Hikayat Perang Sabil dikumandangkan di setiap
meunasah (masjid kampung). Ia juga memasuki masa dewasa di
bawah bayang-bayang keulamaan ayahnya yang sangat kuat
mengilhami langkah hidupnya kemudian.

Orang tuanya memberi nama Muhammad Daud (dua nama
Nabiyullah yang diberikan kitab Alquran dan Zabur). Dari
penamaan ini sudah terlihat, sesungguhnya yang diinginkan
orang tuanya adalah bila besar nanti ia mampu mengganti
posisi dirinya sebagai ulama sekaligus mujahid yang siap
membela Islam. Karena itu, pada masa-masa usia sekolah,
ayahnya tidak memasukkan beliau ke lembaga pendidikan resmi
yang dibuat Belanda seperti: Volkschool, Goverment
Indlandsche School, atau HIS. Namun lebih mempercayakan
kepada lembaga pendidikan yang telah lama dibangun ketika
masa kerajaan Islam dahulu semodel dayah/zawiyah. Yang
menjiwai ayahnya adalah semangat anti-Belanda/penjajah yang
masih sangat kuat. Apalagi ketika itu Aceh masih dalam
suasana perang di mana gema Hikayat Perang Sabil masih
nyaring di telinga masyarakat Aceh.

Dalam pusat pendidikan semacam ini, Daud ditempa dan
dididik dalam mempelajari tulis-baca huruf Arab, pengetahuan
agama Islam (seperti fikih, hadis, tafsir, tasawuf, mantik,
dsb), pengetahuan tentang sejarah Islam, termasuk sejarah
tatanegara dalam dunia Islam di masa lalu, serta ilmu-ilmu
lainnya. Dari latar belakang pendidikan yang diperolehnya
ini, tidak disangsikan lagi, merupakan modal bagi
keulamaannya kelak.

Sekalipun tidak mendapatkan pendidikan Belanda, namun
dengan kecerdasan dan kecepatannya berpikir, beliau mampu
menyerap segala ilmu yang diberikan kepadanya itu, termasuk
bahasa Belanda. Kebiasaannya mengkonsumsi ikan, yang
merupakan kebiasaan masyarakat Aceh, telah membuatnya
menjadi quick-learner (mampu belajar cepat).

Kemampuan yang luar biasa ini, sebagian besar karena ia
merasa menuntut ilmu adalah wajib. Maka belajar tentang
segala sesuatu, dipersepsikannya hampir sama dengan
"mendirikan shalat". Dalam usia yang sangat muda, 15 tahun,
ia sudah menguasai ilmu-ilmu Islam secara mendalam dan
mempraktekkannya secara konsisten. Dengan segera pula ia
menjadi orator ulung, sebagai "singa podium." Ia mencapai
popularitas yang cukup luas sebagai salah seorang ulama di
Aceh. Karena itu, beliau mendapat gelar "Teungku di
Beureueh" yang kemudian orang tidak sering lagi menyebut
nama asli beliau, tetapi nama kampungnya saja. Ketenaran
seorang tokoh di Aceh senantiasa melekat pada kharisma
kampungnya. Kampung adalah sebuah entitas politik yang
pengaruhnya ditandai dengan tokoh-tokoh perlawanan. Dari
kenyataan ini, seorang yang terlahir dari sebuah entitas
resisten, tidak akan pernah berhenti melawan sebelum
cita-cita tercapai. Kendatipun pihak lawan menggunakan
segala daya dan upaya untuk membungkam perlawanan tersebut.


Dari PUSA Menuju Darul Islam



Untuk membungkam dan memadamkan perlawanan Muslim Aceh,
Belanda, atas saran Snouk Hourgronje, melakukan pengaburan
konsep tauhid dan jihad. Belanda membuat aturan pelarangan
berdirinya organisasi-organisasi politik Islam. Restriksi
ini membuat para ulama di Aceh berang dan ingin mengadakan
pembaruan perjuangan melawan penjajah Belanda. Maka atas
inisiatif beberapa ulama yang dipelopori oleh Teungku
Abdurrahman, dibentuk sebuah organisasi yang bernama PUSA
(Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di Matang Glumpang Dua. Dalam
kongres pembentukannya, dipilihlah Teungku Muhammad Daud
Beureueh sebagai ketua. Aceh adalah negeri sejuta ulama, dan
mengetuai organisasi politik ulama berarti juga secara de
facto menjadi "Bapak Orang-Orang Aceh".

Semenjak itu, Daud Beureuh memegang peranan sangat
penting di dalam pergolakan-pergolakan di Aceh, dalam
mengejar cita-citanya menegakkan keadilan di bumi Allah
dengan dilandasi ajaran syariat Islam. Sehingga, umat Islam
dapat hidup rukun, damai dan sentosa sebagaimana yang dulu
pernah diperbuat oleh raja-raja Islam sebelum mereka.
Menurut catatan Compton, "M Daud Beureueh berbicara tentang
sebuah Negara Islam untuk seluruh Indonesia, dan bukan cuma
untuk Aceh yang merdeka. Ia meyakinkan, kemerdekaan beragama
akan dijamin di negara semacam itu, dengan menekankan contoh
mengenai toleransi besar bagi penganut Kristen dalam
negara-negara Islam di Timur Dekat. Kaum Kristen akan diberi
kebebasan dan dilindungi dalam negara Islam Indonesia,
sedangkan umat Islam tidak dapat merasakan kemerdekaan
sejati kalau mereka tidak hidup dalam sebuah negara yang
didasarkan atas ajaran-ajaran Alquran."

Langkah awal dalam upaya itu adalah mengusir segala jenis
penjajahan yang pernah dipraktekkan Belanda, Jepang, dan
zaman revolusi fisik (1945-1949) pada awal kemerdekaan,
maupun ketika Aceh berada di bawah kekuasaan Orde Lama
Soekarno dan Orde Baru Soeharto. Sejak saat itulah, Teungku
Daud Beureueh diyakini oleh orang-orang sebagai "Bapak Darul
Islam".

Daud Beureueh dikenal luas sebagai Gubernur Militer Aceh
selama tahun-tahun revolusi. Tetapi ketika jabatannya
sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo
dicabut oleh PM Mohammad Natsir, ia hidup tenang-tenang di
desanya --tampaknya seperti pensiun.

Setelah Aceh masuk ke dalam Republik Indonesia Komunis
(RIK) di bawah panji Pancasila, Daud Beureueh diberi jabatan
Gubernur Kehormatan dan diminta menetap di Jakarta sebagai
penasihat di Kementerian Dalam Negeri. Ia tidak menerima
penghormatan ini. Satu-satunya tindakan pentingnya yang
diketahui umum adalah pada saat ia mengetuai Musyawarah
Ulama Medan, April 1951. Setelah musyawarah itu, Daud
Beureueh melakukan tur singkat keliling Aceh, memberikan
ceramah-ceramah provokatif bernada mendukung ide Negara
Islam. Ia kemudian kembali ke desanya, dan --membuat takjub
penduduk Medan yang sudah maju-- membangun sebuah tembok
besar dan masjid sungguhan dengan tangannya sendiri. Daud
Beureueh lebih tampak sebagai pensiunan perwira militer
ketimbang sebagai ahli agama, meskipun ia menyandang gelar
teungku.

Teungku Daud Beureueh adalah "Bapak Orang-Orang Aceh"
yang tetap tegar meski dikecewakan oleh kaum fasiqun di
Jakarta. Dengan postur tubuhnya yang kurus tapi kuat, ia
adalah tipe manusia ideal. Sebagaimana dicatat oleh Compton,
dari bawah pecinya, rambut kelabunya yang dipangkas pendek
kontras dengan wajahnya yang muda dan coklat kemerahan.
Bicaranya lugas, bahkan pernyataannya banyak yang
blak-blakan. Misal: "Saya tanya, apakah pemerintahan seperti
itu mampu mengatasi masalah-masalah Aceh sekarang ini? Ya,
ambillah pengairan sebagai contoh. Pada zaman Iskandar Muda,
dibuat saluran dari sungai yang jauhnya sebelas kilometer
dari sini menuju laut. Daerah Pidie menjadi sangat makmur.
Dibuat pula saluran lain tak jauh dari yang pertama,
keduanya dikerjakan oleh ulama. Beda dengan ulama zaman
sekarang, pemimpin-pemimpin di masa itu tak takut sarung
mereka kena lumpur. Sekarang saluran-saluran itu sudah
rusak, dan hasil panen padi merosot. Sebelum terjadi perang,
Aceh biasa mengekspor beras untuk kebutuhan seluruh wilayah
Mardhatillah Sumatera Timur. Sekarang kita mengimpor beras
dari Burma".

Dalam impiannya, ia melihat sebuah Aceh yang sejahtera di
bawah pimpinan kelompok ulama yang ditampilkan kembali. Di
masa keemasan itu, hanya orang-orang yang benar-benar
berpengetahuan yang dapat menjadi ulama. Sedangkan di zaman
modern ini, hampir setiap orang dengan bermodalkan "taplak
meja dililitkan di leher" bisa mengaku berhak untuk disebut
ulama.

Daud Beureueh bicara dengan gelora dan kesungguhan
tentang perlunya pembaruan. Setelah semua kemungkinan
terbentuknya sistem politik Islam sirna dan janji-janji
Soekarno akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam
tidak pernah ditepati, maka jiwa jihad Teungku Daud Beureueh
pun bergolak. Ia kemudian menjadikan Aceh sebagai "Negara
Bagian Aceh-Negara Islam Indonesia" (NBA-NII) dan berjuang
hingga tahun 1964 di gunung-gemunung Tanah Rencong.
Soekarno, meskipun terkenal hebat di mata orang-orang Aceh,
namun karena penipuannya terhadap orang Aceh, nama Soekarno
identik dengan berhala yang harus ditumbangkan.

Compton bisa memahami mengapa orang-orang membandingkan
Daud Beureueh dengan Soekarno yang cemerlang sebagai orator
massa. Seandainya keduanya berpidato di sebuah acara yang
sama, konon Soekarno akan menjadi juara kedua jika
pendengarnya orang Aceh, terutama kalau sang "Singa Aceh"
sudah mulai gusar dan marah.

Sementara ia terus bicara tentang pemerintahan Islam di
Aceh, Compton merasa bahwa aneka kasak-kusuk yang ia bawa
dari Medan menjelang Pemilu 1955 telah sangat
menyesatkannya. Ketika Compton menanyakan apakah sikap ini
tak mengandung semacam kontradiksi, Teungku Daud Beureueh
menandaskan, sebagai sebuah negara demokrasi, Indonesia
harus tunduk pada kehendak-kehendak mayoritas Muslim. Ia
yakin partai-partai Islam akan menang besar dalam sebuah
pemilihan umum.

Daud Beureueh melihat ada tiga kelompok di Indonesia
dewasa ini: kaum komunis yang menginginkan negara
Marxis-ateistik, umat Islam yang menghendaki Negara Islam,
dan golongan nasionalis tertentu yang mau menghidupkan
kembali Hinduisme-Jawa (Negara Pancasila). Ia cemas bahwa
golongan Hindu dan Marxis sedang mengakar, tapi mereka
sendiri khawatir kalau pemilihan umum diadakan, sebab mereka
pasti kalah. Karena alasan ini, menurut Daud Beureueh,
mereka akan berusaha habis-habisan untuk menunda-nunda
pelaksanaan pemilu. Ketika itu Teungku Daud Beureueh masih
berharap dengan Pemilu, namun setelah ia sendiri terjungkal
oleh seorang Perdana Menteri yang merupakan output dari
sistem pemilu, ia kemudian melabuhkan harapan hanya pada
perjuangan fisik. Islam telah dikalahkan secara diplomatis
oleh kemenangan-kemenangan Partai Islam yang tidak memberi
manfaat apapun bagi asersi politik Islam.

Akibat sikapnya ini, Teungku Abu Daud Beureueh kemudian
dilumpuhkan secara sistematis oleh Pemerintah Orde Baru. Ia
kemudian meninggal pada tahun 1987 dalam keadaan buta --buta
yang disengaja oleh Orde Baru-- dan dalam suatu prosesi
pemakaman yang sangat sederhana, tanpa penghormatan yang
layak dari orang-orang Aceh yang sudah terkontaminasi oleh
ide-ide sekuler. R William Liddle yang sempat menghadiri
upacara pemakaman Teungku Daud Beureueh menggambarkan
bagaimana mengenaskannya saat-saat terakhir dan pemakaman
pemimpin Aceh yang terbesar di paruh kedua abad keduapuluh.
"Saya hadir di situ, antara lain, sebagai ilmuwan sosial dan
politik untuk mengamati sebuah kejadian yang bersejarah,
yang mungkin akan melambangkan sesuatu yang lebih besar dan
penting dari upacara pemakaman biasa. Namun, --menurut
penglihatan Liddle sebagai pengamat asing-- dalam
kenyataannya, meninggalnya Teungku Abu Daud Beureueh adalah
"meninggalnya seorang suami dan ayah yang dicintai, seorang
alim yang disegani, dan seorang pemimpin masyarakat sekitar
yang dihormati." Tidak lebih dari itu. Seakan-akan dan
memang inilah kesimpulan Liddle waktu itu bahwa zaman
kepahlawanan Teungku Abu Daud Beureueh telah berlalu, hampir
tanpa bekas. Bersamaan berpulangnya "Bapak Orang-Orang
Aceh", maka Aceh kemudian memasuki babak baru pembangunan
dan modernisasi yang gempita di mana kemaksiatan dan
sekulerisme adalah agama baru yang disambut kalangan
terpelajar perkotaannya secara sangat antusias.


Al Chaidar

Copyrightę Suara Hidayatullah, 1999
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Teungku Muhammad Daud Beureueh Bapak Darul Islam
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» Biodata Kaito_kid<Achilles 9-7>
» MITOS DI MASYARAKAT
» Rahasia dari tanda "metal" \m/ (maksudnya bukan musik metal ya :D)
» Tuliskan account dropbox anda disini

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
.:Acehline Community:. :: Lain - lain :: All About Atjeh-
Navigasi: