.:Acehline Community:.
Silahkan mendaftar untuk Access penuh

.:Acehline Community:.

Computer - Internet - Hacking - Security
 
IndeksPortailPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Diwana Cakradonya, Memandu Jejak Sejarah Aceh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
zulfah
The Wizard
The Wizard


Jumlah posting : 759
Reputation : 2
Registration date : 01.06.07

PostSubyek: Diwana Cakradonya, Memandu Jejak Sejarah Aceh   Sat Aug 09, 2008 8:32 pm

PADA 12
sampai 17 April 2008, di Banda Aceh akan berlangsung satu kegiatan
budaya bernama Diwana Cakradonya. Event yang akan berlangsung siang
malam itu diklaim oleh pihak panitia akan sangat monumental. Alasannya,
melalui event itu akan ditampilkan seluruh bentuk adat istiadat dan
seni budaya masyarakat Aceh yang sudah semakin jarang dipertunjukkan di
hadapan publik. Hampir seluruh agenda kegiatan terpusat di Taman Ratu
Safiatuddin (arena PKA).



Membaca
runutan kegiatan yang akan mengisi event budaya tersebut, banyak yang
terdengar ´aneh´ dan ´asing´. Padahal istilah atau penamaan yang
digunakan adalah miliknya Atjeh aseli. Bahkan, untuk ´judul´ kegiatan
itu sendiri; ´Diwana Cakradonya´, diperlukan penjelasan panjang lebar
untuk mencari suatu pemahaman dan arti yang mendekati maksud
sebenarnya.

Diwana itu bisa diartikan kunjungan wisata atau
melancong. Kalau dalam keseharian masyarakat Aceh, kalimat diwana itu
digunakan, misalnya, ada seorang anak pulang agak larut malam. Si ibu
bilang begini, jinohat kawoe, laloe ka-meudiwana. Nah, bagaimana kita
mengartikan kalimat itu, kata Ketua Tim Kreatif Diwana Cakradonya,
Syamsuddin Jalil atau yang lebih akrab disapa Ayah Panton, ketika
bicara soal event budaya tersebut kepada Serambi, Sabtu (5/4).

Mengenai
Cakradonya, menurut Ayah Panton adalah nama armada perang Sultan
Iskandar Muda. Cakra berarti kabar sedangkan donya berarti dunia.
Lonceng Cakradonya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan ´kabar
kepada dunia´, termasuk isyarat perang, di masa Sultan Iskandar Muda.

Dalam
masa damai, kata Ayah Panton, Cakradonya, tentunya tak lagi digunakan
sebagai isyarat perang tetapi untuk menyampaikan kabar kepada warga
dunia agar datang ke Aceh melihat berbagai bentuk adat istiadat dan
keunikan seni budaya daerah ini. Dalam konteks mengisi masa damai,
Diwana Cakradonya kita artikan sebagai tahun kunjungan wisata dan
berinvestasi di Aceh, ujar Ayah Panton.

***

Diwana
Cakradonya akan dimulai Sabtu malam, 12 April 2008 dengan seremoni
pembukaan yang dipusatkan di pentas utama Taman Ratu Safiatuddin (arena
PKA). Menteri Kebudayaan akan memberikan sambutan sedangkan Gubernur
Aceh menyampaikan pengarahan yang disusul atraksi peh tambo (tabuhan
beduk), saleum aneuk nanggroe (salam khas anak negeri), jangeun aneuk
nanggroe (nyanyian anak negeri), seudati cilik Syeh Dani, seudati cilik
Syeh Makyed, dan rapi-i uroh (alat musik tabuh).

Diwana
Cakradonya, tampaknya bukan hanya diset sebagai event untuk
melihat-lihat bentuk adat istiadat maupun seni budaya masyarakat tetapi
juga memberitahukan kepada dunia menyangkut jejak sejarah Aceh, paling
tidak ada tujuh jejak sejarah di kawasan yang kini bernama Banda Aceh.

Ranjo peukateun raya

Cara
memberitahukan jejak sejarah tersebut, dikemas secara khusus melalui
kegiatan yang diberi nama ranjo peukateun raya atau pawai kebesaran
Aceh. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 pada hari
Minggu 13 April 2008.

Ranjo peukateun raya ditata sesuai
bentuk aslinya––sebagaimana dipraktekkan pada masa-masa kesultanan
Aceh. Pergerakan peserta pawai ditandai dengan pemukulan lonceng
Cakradonya sebanyak tujuh kali yang direncanakan oleh Wakil Gubernur
Aceh didampingi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Setelah
lonceng Cakradonya menggema, maka bergeraklah peserta pawai diawali
dhab (kelompok peniup seurunee kale, penabuh genderang dan rapa-i),
dalupa (sejenis ondel-ondel dalam kesenian Betawi), mahadagrab (pasukan
pengawal raja, berjalan kaki), barisan gajah (sembilan ekor
melambangkan cap sikureueng), barisan kuda, barisan banta-dara
(pasangan pengantin berpakaian adat Aceh sesuai daerah masing-masing),
barisan seumeu-on ngon geumulang (rombongan yang membawa peuneuwoe atau
barang-barang yang diserahkan oleh pengantin laki-laki), rombongan
peutua adat (600 orang imum mukim).

Dalam barisan pawai,
direncanakan ikut pula tim rapa-i daboh taloe rod (satu kegiatan seni
yang merupakan partisipasi relawan RAPI Banda Aceh dan Aceh Besar di
luar fungsi utama mereka sebagai bantuan komunikasi), barisan rapa-i
Pasee serta berbagai komponen masyarakat lainnya.

Tujuh jejak sejarah

Masih
menurut keterangan Ayah Panton dibenarkan Ketua Panitia Pelaksana
Diwana Cakradonya, Drs HA Majid AR, MM, rute pawai kebesaran Aceh atau
ranjo peukateun raya tersebut dimulai dari lokasi makam Sultan Iskandar
Muda menuju ke Taman Putroe Phang selanjutnya Taman Astana
(Gunongan)-Taman Sari-Blang Padang-Masjid Raya Baiturrahman dan
terakhir ke Meuligoe Raja (pendopo) untuk disambut oleh khadi malikul
adil (ulama Aceh). Ada tujuh jejak sejarah Aceh di dalam kawasan Kota
Banda Aceh yang akan dilalui peserta pawai. Pergerakan pawai ditandai
pemukulan lonceng Cakradonya sedangkan pada akhirnya disambut oleh
khadi malikul adil (ulama), rinci Ayah Panton.

Setelah prosesi
pembukaan dan ranjo peukateun raya, Diwana Cakradonya akan diisi dengan
berbagai atraksi (termasuk atraksi ´gajah guda´ di lapangan Blang
Padang) serta pergelaran seni, pameran, perlombaan, dan permainan
rakyat yang dipusatkan di Taman Ratu Saifiatuddin.

Pada puncak
acara, Kamis malam 17 April 2008––setelah seremoni penutupan oleh
Gubernur Aceh––akan ada satu agenda yang tak kalah monumentalnya, yaitu
zikir, dalail, dan meusifeut yang dilaksanakan secara serentak di
seluruh masjid dan meunasah dalam wilayah Kota Banda Aceh dan Aceh
Besar. Seni bernuansa islami tersebut akan melengkapi keindahan dan
kebersahajaan rangkaian Diwana Cakradonya––sebuah event yang bukan saja
mengangkat kembali seluruh bentuk budaya masyarakat Aceh serta adat
istiadatnya, tetapi juga menjadi media ´memanggil´ warga dunia untuk
beramai-ramai berusaha di Aceh dengan memanfaatkan potensi alam dan
keindahan seni budaya masyarakatnya. Semoga.(nasir nurdin)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Diwana Cakradonya, Memandu Jejak Sejarah Aceh
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Billyard..
» YoYo
» Global Warming itu pembodohan massal!
» Tanya Ini Motor siapa? (Naksir berat sama stickernya)
» Funky KOpral, ada yang tahu ?? c'mon masuk

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
.:Acehline Community:. :: Lain - lain :: All About Atjeh-
Navigasi: