.:Acehline Community:.
Silahkan mendaftar untuk Access penuh

.:Acehline Community:.

Computer - Internet - Hacking - Security
 
IndeksPortailPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Pahami Dulu Budaya Aceh..

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
zulfah
The Wizard
The Wizard


Jumlah posting : 759
Reputation : 2
Registration date : 01.06.07

PostSubyek: Pahami Dulu Budaya Aceh..   Wed Aug 13, 2008 4:51 am

MESKI bergerak
lambat, beberapa wilayah yang hancur akibat gempa dan tergilas
gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam mulai menggeliat kembali.
Tugas yang jelas sudah menunggu adalah menata ulang infrastruktur yang
rusak atau hancur akibat bencana tersebut. Namun, dalam proses
penataulangan itu, masyarakat Aceh sebagai subyek pembangunan-sekaligus
sebagai suatu entitas sosial budaya-di kawasan tersebut harus dipahami
dan dilibatkan secara aktif.




LALU, kita pun
seperti disadarkan kembali oleh pesan orang- orang bijak yang kerap
berkata: "Ingatlah bahwa budaya adalah pintu masuk utama untuk
membangun suatu daerah". Masalahnya, seperti apa membangun Aceh di masa
depan secara komprehensif tanpa melupakan roh budaya yang melingkupinya
itu?


Mukhlis PaEni,
antropolog sosial yang pernah meneliti perubahan sosial di Tanah
Rencong itu, khususnya di daerah Gayo, pada akhir tahun 1970-an-yang
saat ini adalah Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang
Pranata Sosial-mengungkapkan pendapatnya dalam percakapan dengan
Kompas, akhir pekan lalu. Berikut sebagian dari percakapan itu.


Bagaimana sebaiknya membangun Aceh pascabencana?

Kewajiban kita
sekarang membangun Aceh itu dengan suatu sistem yang sifatnya
komprehensif atau total. Tidak dapat membangun secara sporadis. Kita
harus melihat Aceh sebagai satu sistem, yaitu membangun infrastruktur
dan kebudayaan.


Seberapa penting pemahaman terhadap kultur?

Orang akan keliru
kalau membawa metodenya sendiri ke Aceh pascatsunami ini. Perlihatkan
suatu realitas bahwa orang yang datang ke situ untuk membangun Aceh
sebagai orang Aceh dan memahami budayanya. Ini berlaku tidak hanya
setelah bencana, tetapi dalam keadaan apa pun. Bukan berarti kemauan
Aceh saja yang harus dipenuhi karena, bagaimanapun, harus ada kesadaran
hidup dalam suatu sistem negara. Asas kegotongroyongan dengan
keterikatan dalam bingkai budaya itu yang harus dibawa ke lokasi
bencana tersebut. Sebaliknya, jangan datang dengan belas kasihan atau
menjadikan Aceh sebagai komoditas.


SEPERTI apa membangun Aceh dengan pendekatan kultural?

Ada dua hal,
yakni pembangunan sisi budaya kebendaan (tangible) dan nilai-nilai
(intangible). Untuk yang bersifat kebendaan, kita tahu Aceh merupakan
gudang peninggalan sejarah yang amat berharga. Di seluruh Aceh terdapat
situs-situs sejarah yang tidak hanya menjadi milik Aceh, tetapi sudah
merupakan warisan dunia.


Contohnya, Masjid
Raya Baiturrahman, Gunongan peninggalan Putri Phang, dan Kompleks Makam
Syiah Kuala. Ini merupakan simbol-simbol kebanggaan dan bagian dari roh
kebudayaan Aceh. Masyarakat Aceh merupakan masyarakat yang milenaristik
atau sangat menghargai masa lampau.


Selain
pembangunan infrastruktur, warisan leluhur Aceh perlu segera dipulihkan
kembali. Dengan melihat peninggalan kemegahan itu pulih kembali, harkat
dan marwah mereka diingatkan bahwa mereka masih di bumi Aceh. Kalau
perlu, dalam saat seperti sekarang ini sudah harus dipikirkan menata
lanskap warisan budaya yang jadi simbol Aceh. Pemerintah Jepang saja
membangun taman indah di tempat meledaknya bom Nagasaki sehingga muncul
heroisme di masa depan. Ini bisa memberikan dampak panjang dari
pembangunan kejiwaan masyarakat Aceh.


Tak kalah penting
adalah penguatan kebudayaan berupa nilai-nilai (intangible). Biarkan
masyarakat Aceh menjadikan alamnya sebagai pelajaran berharga. Jangan
mereka dibawa ke alam lain. Mulai dari sekarang anak Aceh mulai dididik
untuk memahami alamnya itu sebagai guru bagi mereka. Saya tidak terlalu
setuju adopsi anak Aceh dan membawanya keluar karena seakan memisahkan
mereka dari akarnya.




Apa saja yang harus diperhatikan dalam membangun dengan pendekatan budaya tersebut?

Wilayah Aceh yang
terkena tsunami harus dibangun secepatnya. Jangan biarkan mereka harus
menunggu atau menagih-nagih kembali. Karakter Aceh seperti itu. Lihat
saja tarian dan tabuhan dari Aceh, seperti genderang dan rapai. Dari
musik yang klimaks bergemuruh dan tiba-tiba pada suatu titik terhenti.
Budaya Aceh lahir dari gambaran- gambaran alamnya dan karakter tersebut
perlu dipahami. Begitu hancur, begitu pula dibangun secepatnya.
Perlihatkan kesungguhan dalam membangun lokasi yang terkena bencana
tersebut. Berbagai persoalan di Aceh yang selama ini terlunta-lunta,
itu karena Aceh terlalu banyak dijanjikan. Mereka butuh realitas.



Masyarakat Aceh
sangat kuat dipengaruhi keagungan dan keemasan masa lampau. Zaman
keemasan kesultanan masa lalu diwariskan turun-temurun dalam masyarakat
Aceh, seperti bagaimana hebatnya Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu
Aceh sudah mempunyai mata uang emas dan hebat dalam perdagangan. Itu
selalu menggelitik memori kolektif orang Aceh tentang bagaimana
mengembalikan kejayaan Aceh masa lampau.


Penguasa yang ada
tidak bisa menjelmakan itu dan malah menjadikan Aceh semakin sengsara.
Padahal, Aceh melihat bahwa mereka punya gas alam yang sangat besar dan
potensi tambang luar biasa banyaknya. Tetapi yang dieksplorasi tidak
kembali untuk kemakmuran Aceh. Tidak hanya Aceh, banyak daerah lain
yang protes masalah keadilan. Memang kita harus mengerti bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke, namun
kekayaan daerahnya tidak merata. Alhasil, daerah kaya menyubsidi yang
miskin karena kita hidup dalam suatu sistem negara. Ihwal pembagian
yang tidak jelas itulah kebobrokan dari sistem yang harus diperbaiki.


Pendekatan
terhadap permasalahan Aceh juga tidak bisa dipakai pendekatan nusantara
Melayu. Aceh mempunyai heroisme tersendiri. Penduduk Aceh di zaman
kebesaran kesultanan (Kesultanan Samudera Pasai-Red) penduduknya
sekitar 40.000-50.000 dan sebagian merupakan orang dari India Selatan,
seperti daerah Madras, Bombai, dan Sri Lanka. Karakter penduduk Aceh
banyak kesamaan dengan India, mengakibatkan budaya Aceh tidak bisa
disamakan dengan budaya Melayu secara keseluruhan.




TERLEPAS dari permasalahan Aceh, bagaimana memahami multikulturalisme di Tanah Air?

Sebelum Indonesia
merdeka, sebenarnya hampir semua daerah di Indonesia berasal dari
berbagai kerajaan. Sebutlah seperti Bugis, Makassar, Palembang, Aceh,
Banjar, Madura, Bali, Lombok, dan Bima. Oleh karena itu, pluralistik di
Indonesia tidak bisa menggunakan pendekatan pluralistik dari negara
lain seperti Amerika. Baru kemudian lahir kesadaran politik yang
menyatakan diri satu sebagai bangsa.


Ketika
memproklamirkan kemerdekaan, 17 Agustus 1945, sebenarnya semua kerajaan
itu benar-benar sudah selesai. Kita lepaskan baju identitas kerajaan
dan menjadi satu negara Republik Indonesia. Setelah itu, bukan kerajaan
yang kita bawa, tetapi kebudayaan. Masing-masing membawa budaya
lokalnya sehingga budaya kita seperti mozaik.


Selama ini, yang
terjadi justru upaya penyeragaman, termasuk dalam tingkah laku kita.
Contoh sederhana saja, peresmian-peresmian dari pusat sampai kecamatan
dilakukan dengan pemukulan gong, yang belum tentu setiap daerah itu
gong menjadi alat keseniannya. Maksud saya, potensi-potensi lokal harus
dihargai dalam negara yang besar ini.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Pahami Dulu Budaya Aceh..
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Suara knalpot tak segarang dulu?
» MUTILASI V*GINA...??!!!!!
» Tentang ide saya ~ mohon saran ~
» Global Warming itu pembodohan massal!
» katanya aku harus perkenalan dulu, ardelio arthur

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
.:Acehline Community:. :: Lain - lain :: All About Atjeh-
Navigasi: