.:Acehline Community:.
Silahkan mendaftar untuk Access penuh

.:Acehline Community:.

Computer - Internet - Hacking - Security
 
IndeksPortailPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Gender Dalam Budaya Masyarakat Aceh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
zulfah
The Wizard
The Wizard


Jumlah posting : 759
Reputation : 2
Registration date : 01.06.07

PostSubyek: Gender Dalam Budaya Masyarakat Aceh   Wed Aug 13, 2008 12:25 pm

I)
Landasan Budaya Aceh
Landasan filosofis dan way of
life-nya,budaya Aceh adalah bahagia hidup dunia dan bahagia hidup
akhirat. Dinamika hidup SDM (Sumber Daya Manusia) dengan segala proses
kreasi kehidupannya berada dalam tataruang ini (konsep hidup). Jadi ada
batasan, disaat seseorang berkehendak mau, sedang atau akan berhadapan
dengan ketentuan Allah SWT. Ada hari pertanggungan jawaban dan hari
balasan terhadap berbagai tingkah lakunya dalam konteks hubungan dengan
sesama manusia dan hubungan dengan Allah SWT, sepanjang kesadaran hidup
berada dalam konsep tataruang itu. Karena itu hasil-hasil kreasi budaya
Aceh, harus dinikmati kesyahduan nilai-nilainya (values) dengan jasmani
dan rohani secara integral dan kaffah tidak boleh nikmat sekejap,
merana sepanjang masa.
Statemen ini merupakan analisis dari patron
budaya Aceh yang bersumber dari nilai-nilai Islami, sebagai suatu
basis/ akar budaya Aceh, yang telah di bakukan dalam narit maja: ”Hukom
(agama) ngon adat, lagei zat ngon sifeut, han jeut crei- brei”:
“Geu pageu lampoeh ngon kawat, geu pageu nanggroe ngon adat”
“Ureung majeulih hantom kanjai, ureung tawakal hantom binasa”
“Taduk ta muproe ta mupakat, pat-pat nyang silap tawoe bak punca”
Dari
jiwa narit maja ini budaya adat Aceh, berkembang melahirkan asas acuan
sumber nilai yaitu Aqidah, Ibadah dan Amaliah. Aplikasi standar
identitas harkat dan martabat kreasi budaya komunitas Aceh(kaomnya),
dikembangkan oleh kewenangan otoritas dan peran narit maja, yaitu:
”Adat bak Poe teu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala,
Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Lakseumana”
Narit
maja ini memberi makna, membangun budaya gender Aceh, harus mengacu
pada akumulasi integrasi nilai-nilai aturan pemerintah,
ketentuan-ketentuan agama, produk-produk legeslasi dan dinamika adat
istiadat (interaksi sosial) yang kontemporer dan konferehensif. Karena
itu untuk memperkuat tatanan kehidupan budaya Aceh, perlu membangun
kekuatan bersama dari berbagai elemen yang berada dalam masyarakat,
sehingga hasilnya dapat dinikmati bersama ( tidak antargonistis/ tidak
saling bermusuhan). Nuansa ini ada dalam narit maja berikut :
“Toi ngon rok bak ureung nanggroe.Rukon bajoe bak ureung tuha;
Tameih binteih bak uleebalang,Beuneung arang bak ulama”
“.Salah bak hukom raya akibat, salah bak adat malee bak donya.”
“Ta peuturot nafsu, malee pih tanlee, peu turot hatee nyawong teuhila”

Dengan
acuan ini, masyarakat Aceh dapat merancang kreasi pembangunan
nilai-nilai kehidupan Gender dalam kosmos kemasyarakatan alamiah, untuk
mencapai kemajuan mewujudkan kesejahteraan hidupnya, yang beridentits,
berkualitas dan kompetitif

(II)
Sekelumit analisis dari aspek
filosofis dan sosiologis tersebut diatas, memberi gambaran bahwa kultur
dan struktur budaya Aceh, dalam konteks globalisasi peradaban manusia
(human's civilization)mengandung sarat nilai, sebagaimana dikatakan
oleh budayawan besar E.B.Taylor(1871):
” Culture or Civilization is
that complex whole whitch includes knowledge, belief, art, morals, law,
customs and any other capabilities, acquired by man as a member of
society”. (Masinambau, 2000 :1)
Maksudnya; Budaya adalah suatu
peradaban yang mengandung berbagai nilai ilmu pengetahuan, kepercayaan,
seni, moral, hukum, kebiasan dan berbagai kemampuan rekayasa
(keterampilan) seseorang sebagai anggota masyarakat
Bila ini
menjadi pegangan, maka dalam kompetisi budaya global, tidak salah
rasanya, bila mengacu kepada pandangan Kluckhohn, yang mengatakan :.

Nilai itu merupakan ”a conception of desirable”. Pada nilai ada
beberapa tingkatan, yaitu nilai primer dan nilai sekunder. Nilai primer
merupakan pegangan hidup bagi suatu masyarakat(abstrak), misalnya :
kejujuran, keadilan, keluhuran budi dan lain-lain, sedangkan nilai
skunder adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kegunaan, misalnya
dasar-dasar menerima keluarga berencana atau untuk memecahkan persoalan
yang sedang dihadapi. Nilai skunder muncul sesudah penyaringan nilai
primer. Kemajuan yang dicapai oleh Jepang, disebabkan karena orang
Jepang mempertahankan nilai-nilai primernya, tetapi mengubah
nilai-nilai skundernya ( M.Syamsuddin, dkk, 1998: 113)
Berdasarkan
pemikiran dari kerangka teori tersebut diatas, Gender dalam budaya
masyarakat Aceh, tidak perlu ada permasalahan yang membalut
dirinya(rendah diri), menjadi tidak beridentitas dan berkompetitif,
baik intra budaya nasional, maupun dunia global. Tuhan telah menjadikan
manusia, laki-laki dan perempuan serta berbagai kelompok, adalah
bertujuan untuk bermitra (ta'arafu) memadu kasih demi kepentingan
bersama mewujudkan kesejahteraan
Dalam membangun ta'arafu (kemitraan) Gender dalam budaya Aceh, dapat ditemukan beberapa prinsip pokok: yaitu :
1. Sama kedudukan hak dan kewajiban, seperti
 Belajar dan menguasai ilmu
 Memiliki Akhlakul Karimah
 Tawakal kepada Allah SWT
 Berbuat baik sesama manusia
 Bertindak cakap hukum
 Kepemimpinan politik dan sosial budaya

2. Tidak sama kedudukan hak dan kewajiban, seperti
 Dalam penampilan (berbeda pisik) kegagahan dan kecantikan
 Kodratnya yang berbeda dan saling membutuhkan
 Peran dan fungsinya ditentukan masa dan keadaan

3. Fakta kemitraan dalam sejarah budaya Aceh, seperti:
 Beberapa orang wanita jadi Sultan (Raja)
 Banyak wanita jadi pejuang dan pahlawan
 Diantara 73 anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat 26 diantaranya adalah wanita

4. Kendala-kendala dalam peran Gender, seperti:
 Krisis Aceh sangat berkepanjangan
 Sistem politik dan kenegaraan mengalami perubahan
 Putusnya sistem pembinaan kepemimpinan dan ketauladanan
 Pendidikan tak dapat berkembang secara berkesinambungan
 Ekonomi dan pembangunan tidak stabil/ berantakan
 Tatanan adat budaya tidak berkembang/ lepas adat
 Rakyat hidup dalam tekanan tanpa kebebasan
 Media komunikasi tak berjalan
 Informasi berceceran, dst.........

(III)
Beberapa Narit Maja
1. Menuntut ilmu/ akhlak
Ie-leumee ngon adab meunyoe meusapat, baroe na guna
Hukom bak muphom, beik meukeurong jeut keu bala
2. Berakhlak agamis:
Han lon matei di luwa Islam, ka meunan peusan bak indatu.
Ni bak matei kafee, leubeih geit kanjai. Nyang beik sagai cit tuka agama.
Iman ta bina, khusyu' di hatei
3. Berjiwa sopan:
Tasouk bajee bek lee ilat, leumah prut pusat hana gura.
Ureung inong misee boh mamplam,
Lam on ta pandang mata meu-caca
4. Bertata Etika :
Phon-phon adat cit jeut keudroe, watee meusahoe sinan meu tata.
Maseing-maseing nanggroe na adat droe, ureung bakoe nyang atoe cara.
Beik keureuleing ngon kheim irot, beik meureubot peupap haba.
Beik meututoe jampu carot, beik ngon meudhot sue meutaga.
5. Bertata Estetika:
Beungoh seupot beu tamano, peugleih asoe pat-pat nyang reunta
Takoh gukee bak gaki ngon jaroe, peugleih gigoe jeut-jeut kutika
Rumoh tangga beuna ta pakoe, istana droe keurajeun raja Beu gleih ngon rumoh, bagan beuk kutoe,
Di leun meu-asoe ngon bungong jeumpa.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Gender Dalam Budaya Masyarakat Aceh
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» MITOS DI MASYARAKAT
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» bercanda dengan LOGIKA
» [ASK] Apa sih opini, pendapat, dan pandangan kalian terhadap sikap demonstran yang marak terjadi akhir-akhir ini? XD
» Korede iinoda Eiga-Akatsuka Fujio (2011)

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
.:Acehline Community:. :: Lain - lain :: All About Atjeh-
Navigasi: